Penumpang KRL Jabodetabek pastinya tak asing lagi dengan layar MacroAd, yang terpasang di langit-langit dalam gerbong. Dengan layar layar tersebut, penumpang bisa menikmati aneka informasi dan tayangan hiburan layaknya televisi. Sebenarnya pemasangan layar dalam gerbong itu tujuannya untuk menyiarkan iklan meski tak melulu tayangannya berupa iklan. Ada beragam konten menarik yang bisa menambah wawasan penumpang, misalnya, program film, musik, tips, dan peliputan ringan.

George Samuel, Head of Commercial & Business Development MacroAd mengatakan, media  informasi MacroAd konsepnya seperti stasiun televisi. Tapi pemasangannya hanya ada di commuterline dan kereta Bandara Soekarno-Hatta. Menurutnya, perangkat ini bisa menjadi kanal efektif untuk para brand memasarkan produknya. Tapi MacroAd tidak menerima iklan yang berhubungan dengan kampanye politik.

“Selain untuk menyiarkan iklan, kami juga  punya program-program hiburan dan tayangan beritam seperti Cinemagenda, Dioritma, POTD, Trainsetter, Lini Reportase, dan beberapa program kerjasama denngan format yang bermacam-macam. Yang penting tidak mengundang SARA,” ujar George.

Untuk kereta commuterline, saat ini sudah ada 231 gerbong terpasang layar MacroAd dengan total 924 layar. Panel berbentuk monitor pada setiap gerbong itu menyiarkan tayangan yang sama pada waktu sama pula. Jadi, ketika ada brand yang memasang iklan pada layar MacroAd, satu spot atau sekali broadcast berpotensi reach atau menjangkau 270.000 penumpang.

Melalui persiapan playlist, MacroAd menyiapkan tayangan iklan dan konten disesuaikan dengan pembagian waktu. Misalnya untuk prime time pada pagi hari mulai pukul 05.00 hinga 08.00 adalah jam paling padat karena penumpang mayoritas pergi ke kantor. Demikian pula dengan prime time pulang kantor antara pukul 16.00 sampai 21.00, yang durasinya lebih panjang. Sebab waktu kepulangan kantor para penumpang KRL tidak selalu berbarengan sehingga lebih fleksibel

Para pengiklan bisa memanfaatkan panel digital milik MacroAd dengan menayangkan materinya berupa video, seperti TVC. Tujuan dari tiap kampanye kembali ke tiap brand, ingin edukasi atau awareness,” jelas George.

Menurut George, brand yang ingin edukasi bisa mengejar impression, bukan lagi reach. Misalnya, sebuah brand ingin mempromosikan produk atau layanannya berdurasi 30 detik pada jam tertentu namun tayangnya berulang-ulang. Jadi, otomatis, penumpang yang biasa menempuh rata-rata perjalanan KRL sekitar 40 menit bisa ‘menangkap’ isi atau pesan dari video tersebut.

“Kalau awareness bisa memanfaatkan reach, brand  pun bisa menampilkan konten video dengan waktu tayang lebih tersebar. Jadi, penumpang yang melihatnya bisa lebih banyak dan beragam. Setidaknya mereka mengetahui keberadaan sebuah brand atau produk,” kata George.

Setelah berhasil menarik perhatian penumpang commuterline Jabodetabek, layar-layar digital MacroAd kinu hadir menyapa penumpang di dalam kereta bandara Soekarno-Hatta. Dengan teknologi media DOOH, Macro Ad akan terus berupaya jadi terdepan sebagai penyedia sekaligus pengoperasi media informasi untuk transportasi umum. [yogs/elshita/kompas tv]